Minggu, 20 Mei 2012

Menulis

KERISAUAN Taufiq Ismail, seorang penyair Angkatan 66, melihat generasi muda kita buta membaca dan lumpuh menulis sangat beralasan. Dia melihat hal ini sebagai akibat buruk dari dimatikannya kewajiban membaca 25 buku dan mengarang 40 jam setahun bagi murid-murid SMA, yang terjadi sejak berakhirnya sistem pendidikan AMS (setingkat SMA di zaman Belanda).
Kurikulum pendidikan yang tidak menganggap membaca dan menulis sebagai pelajaran penting adalah akar penyebab rendahnya kemampuan menulis pemuda kita saat ini. 

Pembelajaran Bahasa Indonesia dan sastra hanya dijejali dengan nama-nama sastrawan dan judul karyanya, yang semua itu bersifat hapalan. Siswa hanya diminta untuk bisa menjawab soal-soal ujian multychoice (pilihan ganda). Minim apresiasi sastra, terbatas penilaian terhadap karya-karya yang mereka tulis sendiri. Padahal dari bangku sekolah inilah, seharusnya pemuda kita sejak dini diperkenalkan dengan membaca sastra dan belajar menulis karya sastra yang baik. 

Hal ini semakin diperburuk dengan rendahnya kemampuan membaca dan menulis dari guru-guru bahasa Indonesia. Para guru tersebut lebih disibukkan dengan pembuatan bahan pelajaran, lembaran evaluasi siswa, ikut pelatihan ini itu, pada akhir-akhir tahun ajaran direpotkan dengan les tambahan untuk pemantapan nilai bahasa Indonesia para siswa kalau tidak mau sekolah mereka tercoreng namanya gara-gara banyak siswanya tidak lulus UN. Suasana yang demikian tidak bersahabat itulah menyebabkan dangkalnya pembelajaran menulis di sekolah. Lagi pula, menulis bukanlah poin penilaian yang diujikan pada UN. Buat apa repot, toh tak ada pentingnya. 

  bendera

Benarkah demikian? Padahal, menulis adalah salah satu tahapan belajar yang sangat penting bagi peningkatakan kreativitas siswa dan menumbuhkan daya analisanya. Jangan heran dengan sistem pengujian yang semuanya pilihan ganda itu menumpulkan kreativitas dan analisa siswa. Semuanya disandarkan kepada kemampuan hafalan, yang itu tidak lama bertahan di kepala. Tidak heran jika kemampuan daya saing SDM lulusan perguruan tinggi di negeri ini sangat rendah. Bahkan, BPS mencatat bahwa penyerapan lulusan perguruan tinggi di dunia kerja hanya 6 persen. 

Sangat rendah dibandingkan dengan mereka yang hanya tamatan SD, yang tingkat penyerapannya lebih dari 70 persen. Mungkin pekerja yang tamatan SD itu cuma mengandalkan otot yang tidak butuh keahlian dan keterampilan khusus. Sedangkan yang bergelar sarjana tentu yang diutamakan adalah skil atau keahliannya. Keahlian seseorang sangat berhubungan dengan tingkat kreativitas yang dimilikinya serta kemampuan analisa yang mendalam sehingga mampu memberikan solusi yang tepat untuk setiap masalah yang dihadapi. 

Berangkat dari masalah inilah, mengapa di negara maju kemampuan membaca dan menulis adalah sesuatu yang sangat menentukan. Karena membaca dan menulis adalah dua kemampuan dasar yang mutlak dimiliki oleh seorang profesional. Sedangkan matematikan, fisika, kimia, biologi, teknik dan sebagainya hanya alat bantu yang dipakai sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidangnya. Anehnya lagi, pendidikan kita lebih mengutamakan penguasaan secara “mati-matian” terhadap alat bantu ini ketimbang memperkuat kemampuan dasar siswa. Mungkin Anda merasa aneh dan agak geli ketika mendengar dalam kurikulum di negara ini ada pelajaran “membaca cepat” dan “mengarang 24 jam” seminggu. 

Namun itu bukanlah sesuatu yang mengherankan apalagi menggelikan di negara seperti Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, Jerman dan beberapa negara maju lainnya. Bahkan di Selandia Baru, yang merupakan salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia, malahan mewajibakan pelajaran membaca dan menulis sekitar 50 persen dari seluruh jam pelajaran. Bandingkan dengan negara kita, yang cuma fokus pada nilai UN yang lebih dari 5,5. Padahal angka-angka tersebut tidak terlalu berguna di dunia kerja nanti. 

Menulis pada dasarnya adalah satu dari empat skil atau keterampilan dasar komunikasi, selain itu ada keterampilan berbicara, membaca dan mendengar. Karena itulah, menulis menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang. Dalam berbagai aspek kehidupan dan terutama di dunia kerja, kemampuan menulis sangat dituntut. Mereka yang memiliki kemampuan menulis yang baik, biasanya selalu kelihatan lebih menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. 

Dalam perkembangan informasi yang demikian pesatnya, menulis adalah salah satu profesi yang sangat menjanjikan. Kemampuan menulis hampir tidak bisa dipisahkan dari dunia jurnalistik, baik cetak maupun elektronik. Lebih luas lagi, menulis dibutuhkan dalam pembuatan film, sinetron, film animasi, program acara di televisi dan sebagainya. Sampai-sampai untuk mengonsep sebuah teks pidato pejabat, dibutuhkan adanya seorangspeechwriter (penulis pidato) yang biasanya adalah penulis profesional, dan mereka dibayar untuk itu. Mereka yang berprofesi sebagai penulis buku dan novel untuk saat ini bisa dijadikan sebagai sumber nafkah. Bahkan, tidak sedikit penulis profesional yang hidup berkecukupan dari hasil kerja kreatifnya itu. 

Selain itu, menulis telah terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan kecerdasan pada anak-anak terutama kecerdasan berbahasa dan kecerdasan intra-personalnya. Bagi pelajar dan mahasiswa yang memiliki kemampuan menulis yang baik, biasanya selalu kelihatan lebih menonjol dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Karena mereka memiliki prestasi dalam lomba-lomba penulisan mulai dari tingkat daerah sampai nasional. Mereka ini masuk dalam golongan pelajar top atau bintang sekolah dan kampus. 

Menulis adalah sebuah skil atau keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan. Belajar menulis sama saja dengan belajar bahasa asing. Tidak dibutuhkan bakat dalam menulis, tapi dengan latihan yang rutin dan terus-menerus, keseriusan, kesabaran, ketekunan dan semangat pantang menyerah serta tidak cepat puas. 

Walau akhir-akhir ini banyak bermunculan penulis muda, namun itu tidak berangkat dari basik sekolah. Mereka lahir dari sejumlah komunitas penulisan yang sejak tahun 90-an marak bermunculan di Tanah Air. Sebagian besar dari mereka berangkat dari hobi. Bukan karena adanya pembinaan dan pendampingan secara kontiniu. Semacam bakat alam yang kemudian terasah di komunitas penulisan, sekolah-sekolah menulis, pelatihan dan seminar-seminar. Jumlahnya pun fluktuatif seiringan dengan tren dan denyut komersialisasi pasar yang di-setting oleh penerbit. 

Sastra? Masih jaman?


Kok sastrawan doang, sastrawatinya mana? Maksudnya sastrawan di sini berarti mencakup sastrawati juga. Seperti kata Arab “Muslim yang sering dipakai untuk mewakili kata muslim (umat Islam lelaki) dan muslimah (umat Islam perempuan). Maklumlah, kita kan menganut sistem patriarkal jadi cukup dengan menggunakan kata sastrawan. Nah, sekarang mari kita bahas soal sastrawan. Pertanyaan awalnya adalah, sastrawan itu apaan sih?
Katanya di Indonesia pernah ada paus sastra. Orang-orang memanggil namanya H.B. Jassin. Beliau ibarat seorang sastrawan yang memegang otoritas kesusasteraan di Indonesia. Tetapi era-nya pak Jassin sudah berakhir alias tempoe doeloe bin jadul. Lalu bagaimana di jaman sekarang?
Apakah sastrawan itu orang yang belajar di fakultas sastra?
Kalau menurut saya pribadi sih, yang ada di jaman sekarang adalah Penulis cerita atauPenulis puisi. Kalau mau disingkat ya Penulis sastra, bukan sastrawan.
Sastrawan itu ya Penulis Sastra. Mosok sih?
Lantas mereka yang kuliah di jurusan sastra bisa dibilang sastrawan?
Hasil ubek-ubek google daripada harus obrak-abrik rak buku hanya untuk menulisbeginian, yang namanya sastra berarti seni, ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam,  ekspresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang memesona. Jadi yang disebut sastrawan adalah seseorang yang mengetahui, menguasai, dan mempraktikkan semua hal yang tercakup dalam definisi sastra itu?
Apakah sastra sedemikian penting bagi kehidupan? kalau jaman perjoeangan doeloe sihmungkin. Karena di dalam sejarah sastra Indonesia pernah ada pertarungan kubu parapenyastra. Dengan kalimat lain, dulu itu sastra penting karena dibawa ke ranah politik. Tetapi sekarang ini sastra cuma lalu lalang begitu saja. Orang-orang lebih mementingkan belajar agama daripada belajar sastra. Apalagi sastra Indonesia, memangnya fakultas-fakultas sastra Indonesia masih banyak peminatnya?
Masihlah!
Baiklah, katakan saja masih banyak peminatnya. Tetapi kalau di kampus saya yang berbau agama, sastra Indonesia sama sekali tidak laku dan berganti dengan sastra Arab. Saya heran melihat kawan saya sampai tingkat pascasarjana memelajari sastra Arab ketimbang sastra Indonesia. Kalau ditanya soal sastra Arab pun belum tentu menguasai sepenuhnya ilmu kesusasteraan Arab yang jelimet; ada nahwu, sharaf, balaghah, ditambah sejarah sastra Arab. Sampai-sampai dia harus meneliti sastra Arab dari masa Pra-Islam. Kalau ditanya, “Untuk apa kamu belajar sastra Arab?”
Untuk mengetahui sya’ir-sya’ir bangsa Arab atau paling tidak bisa mengkaji corak kesusasteraan al-Qur’an. See! Ujung-ujungnya lari ke agama, ke pondasi awal dari bangunan suatu agama yaitu kitab suci. Lalu apa yang bisa dibuktikan dari kajian sastra terhadap al-Qur’an. Syukur kalau masih sama dengan arus mainstream, kalau berbeda dengan para mufassir yang sudah eksis dari jaman klasik seolah paling otoritatif, bisa-bisa kena damprat dan hujat. Sastra tidak pernah dapat tempat signifikan dan mapan dalam tradisi keilmuan Islam.  Karena yang utama adalah Fiqih, tafsir dan hadis. Makanya banyak orang yang didaulat sebagai sastrawan Timur Tengah di abad modern sering kali mendapat ancaman pembunuhan karena coba menyastrakan sumber ajaran agama.
Kawan saya yang belajar sastra Arab itu ketika ditanya, “Apa kamu merasa dirimu sastrawan?” pasti jawabannya tidak. Mengkaji puisi Arab bisa tetapi membikin puisi Arab tidak bisa. Masih mending mahasiswa-mahasiswa sastra Indonesia yang bisa membikin puisi berbahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mau mengaku sebagai sastrawan atau masih malu-malu mengakui kesusasteraan diri atau tulisan mereka sendiri. Dan kalau para mahasiswa sastra Indonesia itu lulus dari bangku perkuliahan, apakah mereka akan menahbiskan diri sebagai sastrawan dan bergerak di bidang sastra atau malah menjadi guru bahasa Indonesia?
Semisal adik perempuan saya yang lulusan sastra Inggris di Universitas terkemuka di Jakarta. Ketika lulus kuliah dia malah jadi guru bahasa Inggris walaupun aktif di kegiatan sastra sewaktu masih kuliah. Kalau ditanya soal teori lekas dijawab, “Aduh, lupa lagi, itukan dulu pas di kuliah.” padahal saya cuma tanya misal tentang teori mimesis-nya Plato. Ini menandakan bahwa ternyata ada realita yang lebih pelik yang harus dihadapi di luar dunia perkuliahan ketimbang saat masih di dalam. Artinya, menjadi sastrawan bukanlah cita-cita setiap lulusan SMA yang masuk fakultas sastra.
Oke, anggap saja para penyair, novelis, cerpenis adalah sastrawan. Apalagi jika buku karya mereka sudah best-seller. Tidak perlu kita bedakan apakah karya mereka populer atau non-populer, pasaran atau estetik. Sekarang kita tanya balik, “Apakah mereka sastrawan?” Lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak, tergantung selera. Sekarang mari kita sangkut pautkan dengan sastra populer dan sastra tinggi dalam konteks menghasilkan suatu karya. Kira-kira mengikuti minat pasar, mana yang lebih diinginkan oleh penerbit buku, sastra populer atau non-populer? Tentu semua orang boleh berdalih bahwa menulis novel, kumpulan cerpen atau puisi adalah semata berkarya. Adapun uang hanya efek samping dari hasil karya kita. Namun dalih seperti itu hanya ucapan klise saja. Kalau mau novelnya populer, si pengarang gampang saja tinggal contoh resep penulisanbest sellerToh, banyak workshop penulisan buku menawarkan tips, ramuan, dan resep suatu karya menjadi best seller. Tetapi apakah karya mereka layak disebut karya sastra atau bukan? lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak tergantung selera.
Kriteria apa yang bisa menunjukkan seseorang dapat disebut sebagai seorang sastrawan. Semua orang bisa menulis atau sebutlah membuat sebuah karya yang layak dibaca. Tapi sekali lagi, karya yang layak dibaca oleh siapa? Oleh seorang guru atau sebutlah mereka yang mengerti teori, atau sekedar orang awam yang merasa terhibur membaca karya itu. Sebut sajalah sebuah tulisan yang tak terlalu bagus dalam ukuran teori namun dapat membuat pembacanya, yang dalam hal ini adalah orang yang tidak mengerti teori, benar-benar terhibur dan senang akan tulisan yang dibacanya. Dibandingkan dengan tulisan seseorang yang mengerti teori meski belum sepenuhnya, dan berusaha menerapkannya, namun tulisan itu hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mengerti teori. Sedangkan orang awam yang katanya tidak mengerti teori hanya bisa mengerutkan kening, dan malah menimbulkan kesan enggan membaca karena kesulitan dalam memahami rangkaian kalimat yang terdapat dalam tulisan itu. Terlalu banyak estetika malah bikin yang awam jengah. Jangankan yang awam, editor buku pun terkadang merasa ingin muntah.
Lalu kalau sudah begini, masihkah sekarang ada yang namanya sastrawan? Atau seperti yang saya bilang di atas, yang ada hanya penulis saja; seperti penulis novel ya novelis, bukan sastrawan